13.1 C
New York
Sabtu, Oktober 10, 2026

Buy now

spot_img
Beranda blog Halaman 7

Penuh Haru, Nonton Bareng Film “ISTIMEWA” di Bengkulu Satukan Pejabat Daerah dan Teman Disabilitas.

0

Infoberitanasional.com-BENGKULU – Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan mewarnai Studio Cinema 21 Mega Mall Kota Bengkulu pada Selasa sore (22/9/2026). Puluhan teman-teman penyandang disabilitas dari berbagai perkumpulan di Kota Bengkulu berkumpul bersama untuk menyaksikan pemutaran film terbaru berjudul “ISTIMEWA”.

Acara nonton bareng (nobar) yang dimulai pukul 16.35 WIB ini terasa semakin spesial dengan kehadiran Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bengkulu, Dr. Sahat Marulitua Situmorang, didampingi sang istri, drg. Kernawati Sianturi. Keduanya hadir sebagai undangan kehormatan dan memilih untuk berbaur langsung, duduk berdampingan tanpa sekat dengan para penonton disabilitas sepanjang pemutaran film.

Film “ISTIMEWA” sendiri memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan masyarakat Bengkulu. Salah satu influencer penyandang disabilitas berbakat asal Kota Bengkulu, Anggi, turut terlibat aktif dalam karya layar lebar yang menguras emosi dan penuh inspirasi ini.

Kisah Perjuangan dan Kasih Sayang Tanpa BatasFilm ini mengangkat kisah menyentuh di sebuah tempat bernama ‘Rumah Istimewa’. Cerita berpusat pada kehidupan lima anak penyandang disabilitas: Aldo (diperankan oleh Aldi), Bimo (Bambang), Ken (Rein), Nita (Niatus), dan Mul (Mustofa). Mereka hidup bahagia sebagai sebuah keluarga di bawah asuhan Pak Mahendra (diperankan aktor senior Mathias Muchus), sosok ayah yang penuh kasih, serta dibantu oleh Mbak Kinan (Yanni Melwani), seorang sukarelawan yang setia.

Konflik memuncak saat Pak Mahendra divonis mengidap kanker dan memilih pergi secara diam-diam agar anak-anaknya tidak melihat kondisinya yang melemah. Didorong rasa cinta yang besar, kelima anak ini nekat melakukan perjalanan panjang untuk mencari sang ayah.

Di tengah pencarian, mereka bertemu dengan Bagas (Ajil Ditto) dan Aji (Agus Kuncoro) yang kemudian membawa mereka viral di panggung PWO setelah bergabungnya Ella (Salsabila Bella). Perjalanan emosional ini menjadi ujian berat bagi persahabatan dan ketulusan mereka. Meski menghadapi berbagai rintangan, titik cerah akhirnya mempertemukan mereka kembali dengan sang ayah.

Film ini ditutup dengan pesan mendalam: Rumah Istimewa kembali berdiri, namun sebuah kehilangan mengajarkan mereka bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, selain hidup yang terus berjalan melalui kasih dan maaf. Sebuah pertanyaan besar pun diserahkan kepada penonton: Mampukah mereka bertahan menghadapi dunia sebagai sebuah keluarga?

Kegiatan nobar ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya ruang inklusif dan kesetaraan bagi penyandang disabilitas, sekaligus menjadi bukti nyata dukungan emosional dari jajaran pejabat pemerintah Kota Bengkulu terhadap komunitas disabilitas.

Penyalahgunaan Senjata Api dan Kekerasan Oknum Polisi di Lampung Utara: PTDH dan Mabes Polri Menanti

0

Infoberitanasional.com-LAMPUNG UTARA: Penyalahgunaan wewenang dan tindak kekerasan yang melibatkan oknum anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kembali menjadi sorotan publik. AOP (33), warga Desa Negara Bumi, Kecamatan Sungkai Tengah, Kabupaten Lampung Utara, diduga menjadi korban penganiayaan berat oleh seorang oknum polisi berinisial RBN pada Senin, 21 September 2026.

Akibat penganiayaan brutal tersebut, AOP sempat jatuh pingsan di lokasi kejadian dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat pendarahan serius di hidung dan telinga kiri, serta luka robek di belakang telinga kiri yang membutuhkan penanganan jahitan medis.

Aksi penganiayaan ini diduga dilakukan menggunakan benda tumpul seperti kayu atau sejenisnya. Tak hanya kekerasan fisik, insiden tersebut makin diperparah oleh munculnya suara letusan senjata api dinas milik pelaku yang mengejutkan warga setempat.

Kasus ini telah resmi dilaporkan ke Polres Lampung Utara berdasarkan Surat Tanda Penerimaan Laporan Nomor: LP/B/468/IX/2026/SPKT/POLRES LAMPUNG UTARA/POLDA LAMPUNG oleh kerabat korban, Abdul Kodir.

Kuasa hukum korban, Alfian Suni, S.H., M.H, mengatakan pihaknya siap mengawal perkara ini hingga tuntas sesuai dengan regulasi dan perundang-undangan yang berlaku.

Menurut Alfian, tindakan terlapor bukan sekadar dugaan tindak pidana penganiayaan berat, melainkan juga pelanggaran fatal terhadap etika serta prosedur disiplin kepolisian.

“Kami akan menuntut kasus ini sampai tuntas sesuai hukum yang berlaku. Kami mendesak oknum anggota Polri tersebut segera diperiksa dan ditindak tegas. Apabila terbukti melanggar pidana umum maupun kode etik, yang bersangkutan wajib dijatuhi hukuman yang setimpal, bahkan dipecat melalui PTDH (Pemberhentian Tidak Dengan Hormat),” tegas Alfian, Senin malam, 21 September 2026.

Selain memproses pidana umum di Polres Lampung Utara, pihaknya akan membawa dugaan pelanggaran etik ini ke Divisi Propam Mabes Polri demi menjamin akuntabilitas dan transparansi di internal instansi penegak hukum.

*Kronologi Peristiwa*

Insiden kekerasan ini bermula pada Senin siang sekitar pukul 11.30 WIB di Jalan Dusun Wono Rejo, Kecamatan Sungkai Utara, Kabupaten Lampung Utara. Korban AOP bersama beberapa rekannya saat itu sedang ngeleles singkong atau kegiatan warga lokal mengumpulkan sisa-sisa hasil panen cabutan singkong di area kebun.

Di tengah aktivitas warga, RBN- yang diketahui sebagai anak dari pemilik lahan kebun singkong tempat korban berada, datang menghampiri. RBN sempat bertanya kepada AOP, “Apakah kamu tahu siapa pemilik kebun ini?”

AOP menjawab jujur tidak mengetahui pemilik kebun tersebut. Tanpa perdebatan lebih lanjut, RBN diduga langsung mencengkeram leher korban dan menghantamnya secara memutilasi menggunakan benda tumpul yang diduga berupa kayu atau sejenisnya. Pukulan keras di area vital tersebut membuat korban seketika pingsan di tempat.

Di tengah aksi kekerasan tersebut, terlapor disinyalir juga sempat mencabut senjata api dinas dan melepaskan tembakan. Sejumlah warga di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) mengaku mendengar dua kali suara letusan senjata api yang menggelegar -masing-masing satu kali mengarah ke udara dan satu kali ke arah tanah.

*Kondisi Korban Kritis*

Setelah siuman dari pingsannya, AOP berusaha merangkak pulang untuk melaporkan penganiayaan yang dialaminya kepada keluarga. Kondisi tubuh korban dipenuhi luka memar dan lebam membiru di area leher, dada, hingga punggung akibat pukulan benda tumpul.

“Pendarahan terus mengalir dari hidung dan telinga kiri korban, disertai luka robek parah di belakang telinga kiri hingga harus mendapat jahitan dari tim medis,” ujar Alfian.

Melihat kondisi AOP yang kian memburuk, katanya, pihak keluarga segera melarikannya ke Puskesmas Negara Ratu Kec. Sungkai Utara Click to open side panel for more information untuk mendapatkan pertolongan pertama.

“Lantaran parahnya tingkat pendarahan dan dugaan cedera traumatik, korban kemudian dirujuk ke rumah sakit rujukan,” kata dia.

AOP, tambahnya, kini harus menjalani perawatan medis dan evaluasi intensif di RSU Handayani Kotabumi, Lampung Utara.

“Kami mendesak jajaran Polda Lampung dan Polres Lampung Utara agar menangani perkara dugaan tindak pidana berdasarkan KUHP baru ini secara adil dan transparan,” harapnya. (TIM)

Wujudkan Kota Religius dan Bahagia, Pemkot Bengkulu Tertibkan Fasilitas Umum di Kawasan Pasar Panorama.

0

Infoberitanasional.com–BENGKULU – Pemerintah Kota Bengkulu terus berkomitmen mewujudkan visi sebagai kota yang religius, bahagia, tentram, dan tertib bagi seluruh warganya. Menindaklanjuti hak 411.000 jiwa penduduk Kota Bengkulu yang terdaftar resmi untuk mendapatkan jaminan kenyamanan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bengkulu melakukan penataan dan penertiban berkala terhadap pemanfaatan fasilitas umum di kawasan Pasar Panorama.

Langkah tegas ini diambil sebagai bentuk penegakan Peraturan Daerah (Perda) sekaligus implementasi amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang memberikan wewenang kepada Satpol PP untuk menegakkan Perda dan menyelenggarakan ketertiban umum serta ketentraman masyarakat.
Kepala Satpol PP Kota Bengkulu menyatakan bahwa seluruh warga kota yang taat.

melaksanakan kewajibannya berhak menikmati fasilitas publik yang dibangun bersama. “Jalan, trotoar, taman, dan ruang publik lainnya adalah hak seluruh masyarakat. Fasilitas tersebut tidak boleh dikuasai secara sepihak oleh perorangan, baik untuk lapak Pedagang Kaki Lima (PKL) yang melanggar tempat, bangunan liar, maupun aktivitas lain yang mengganggu ketertiban umum,” ujarnya.

Penataan di kawasan Pasar Panorama ini mengedepankan pendekatan yang humanis namun tetap tegas. Satpol PP mengimbau para pedagang dan pengguna jalan untuk bersama-sama menjaga fungsi sarana publik agar aktivitas perekonomian di pasar dapat berjalan secara tertib tanpa mengorbankan kenyamanan warga lainnya.

Pemerintah Kota Bengkulu menegaskan bahwa kota ini adalah milik bersama. “Kota Bengkulu adalah Kita, Ayo Bersama-sama Menjaganya.” Dengan sinergi antara pemerintah yang tegas dan warga yang tertib, keindahan serta ketentraman kota yang religius dan bahagia dapat terus terjaga secara berkelanjutan.

Lampung Begawi x SigerFest 2026 Berakhir, Pemprov Lampung Dorong Hilirisasi Komoditas Jadi Nilai Tambah*

0

Infoberitanasional.com-Bandar Lampung — Gubernur Lampung yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan menutup gelaran Lampung Begawi x SigerFest 2026 yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, bertempat di Lampung City Mall, Minggu (20/09/2026) malam.

Lampung Begawi x SigerFest 2026 mengusung tema Sai Bumi, Sejuta Nilai: Hilirisasi Komoditas Unggulan Lampung untuk Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif dan Berdaya Saing, telah berlangsung selama tiga hari dan menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perbankan, akademisi, komunitas, pelaku UMKM, dan masyarakat dalam mendorong penguatan ekonomi Lampung melalui hilirisasi dan digitalisasi.

Gubernur Lampung dalam sambutan tertulis yang disampaikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Lampung menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia dan seluruh pihak yang telah berkolaborasi dalam penyelenggaraan Lampung Begawi x SigerFest 2026.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Lampung, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Bank Indonesia beserta seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari ikhtiar ini,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa Lampung memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi daerah. Karena itu, potensi yang dimiliki Lampung perlu terus didorong agar menghasilkan nilai tambah yang lebih besar dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Tiga hari Lampung Begawi x SigerFest 2026 memberikan satu pesan yang sangat jelas kepada kita. Lampung tidak kekurangan potensi. Tantangan kita adalah bagaimana semakin banyak nilai dari potensi itu tinggal di Lampung dan dinikmati oleh masyarakat Lampung,” katanya.

Ia menegaskan, Lampung memiliki beragam komoditas unggulan, mulai dari hasil pertanian dan perkebunan, kopi, pangan, wastra, produk UMKM, hingga ekonomi kreatif. Potensi tersebut perlu dikembangkan dari sekadar menghasilkan komoditas menjadi produk bernilai tambah dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

“Lampung tidak boleh berhenti sebagai daerah penghasil. Lampung harus menjadi daerah pencipta nilai tambah. Kopi Lampung jangan berhenti sebagai biji kopi. Hasil pertanian kita jangan berhenti sebagai bahan mentah. Produk UMKM jangan berhenti pada produksi skala kecil,” tegasnya.

Gubernur menjelaskan, penguatan nilai tambah dapat dilakukan melalui proses yang berkelanjutan, mulai dari produksi menuju pengolahan, kemudian menjadi produk, membangun merek, hingga memperluas akses pasar.

Di sisi lain, Gubernur juga menekankan pentingnya digitalisasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pelayanan publik.

“Di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, digitalisasi bukan lagi pilihan. Digitalisasi adalah sebuah keniscayaan dan kebutuhan,” ujarnya.

Ia mengapresiasi perluasan penggunaan QRIS, penguatan sistem pembayaran digital, serta berbagai inovasi yang dikembangkan Bank Indonesia bersama para pemangku kepentingan.

Menurutnya, digitalisasi dapat meningkatkan efisiensi, membangun kepercayaan, serta membuka peluang ekonomi baru. Semangat tersebut juga perlu diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan melalui pelayanan publik yang semakin cepat dan penerimaan daerah yang semakin transparan.

“Teknologi harus menjadi alat untuk mempermudah masyarakat, bukan untuk mempersulit masyarakat. Itulah semangat yang harus kita bawa pulang dari Lampung Begawi x SigerFest 2026,” katanya.

Gubernur juga mengajak seluruh pihak untuk menjadikan semangat ‘Sai Bumi Sejuta Nilai’ bukan sekadar tema festival, tetapi menjadi bagian dari upaya bersama dalam membangun perekonomian Lampung.

“Kita ingin Lampung menjadi tempat yang nyaman untuk berusaha, tempat yang menarik untuk berinvestasi, dan tempat yang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk berkembang,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Lampung, pemerintah kabupaten/kota, serta seluruh pihak yang telah berkolaborasi mendukung penyelenggaraan Lampung Begawi x SigerFest 2026.

Ia mengatakan, kegiatan tahun ini mengusung semangat memperkuat hilirisasi dan digitalisasi sebagai pondasi ekonomi kerakyatan yang inklusif dan berdaya saing.

“Lampung Begawi x SigerFest 2026 dirancang bukan sekadar sebagai sebuah festival atau pameran produk, khususnya UMKM, tetapi merupakan sebuah ruang kolaborasi yang mempertemukan UMKM, dunia usaha, perbankan, pemerintah, komunitas dan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling mendukung untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Lampung,” jelasnya.

Selama tiga hari pelaksanaan, kegiatan tersebut mendapat antusiasme masyarakat. Berdasarkan data yang disampaikan Bank Indonesia, jumlah pengunjung mencapai sekitar 28.000 orang.

Dari sisi transaksi, realisasi penjualan makanan, minuman, dan wastra tercatat sedikit di atas Rp500 juta. Sementara transaksi wakaf yang berlangsung di Lamban Kupi mencapai 1.248 transaksi.

Selain capaian selama pelaksanaan festival, Bimo juga menyampaikan sejumlah perkembangan penguatan UMKM yang telah dilakukan sejak awal 2026. Realisasi pembiayaan bagi UMKM telah mencapai sekitar Rp10 miliar melalui dukungan dan kolaborasi dengan mitra strategis, termasuk Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Lampung dan lembaga keuangan.

Dari sisi perluasan pasar, nilai ekspor yang berasal dari pelaku UMKM Lampung sejak awal tahun tercatat mencapai sekitar Rp1,92 miliar. Komoditas kopi Lampung telah menjangkau pasar Amerika Serikat, Kanada, Korea Selatan, dan Taiwan.

Sementara itu, produk olahan makanan dan minuman Lampung telah menembus pasar Taiwan, Malaysia, Mesir, Turki, dan Kanada.

Menurut Bimo, capaian tersebut menunjukkan bahwa penguatan kapasitas usaha, hilirisasi, dan perluasan akses pasar dapat meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Dalam rangkaian Lampung Begawi x SigerFest 2026, berbagai kegiatan juga digelar untuk memperkuat ekosistem komoditas unggulan Lampung. Salah satunya melalui kegiatan yang mempertemukan petani, pelaku usaha, barista, komunitas, hingga calon investor dalam pengembangan industri kopi Lampung.

Kegiatan Bar Takeover di Lamban Kupi turut menjadi salah satu agenda yang memperkenalkan kopi Lampung kepada masyarakat dengan menghadirkan standar penyajian dan pengalaman kopi berkelas internasional.

Sementara Lamban Wastra menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya sekaligus potensi ekonomi kreatif Lampung melalui berbagai kegiatan, seperti workshop, talkshow, pameran, dan fashion show.

Bimo menegaskan, penguatan hilirisasi dan digitalisasi membutuhkan kolaborasi erat antar pemangku kepentingan agar potensi daerah dapat diolah menjadi produk yang lebih bernilai dan kompetitif.

“Yang berakhir hari ini adalah rangkaian acaranya, bukan semangat kolaborasinya,” katanya.

Ia berharap seluruh rangkaian Lampung Begawi x SigerFest 2026 dapat memberikan inspirasi untuk memperkuat kecintaan terhadap budaya dan produk Lampung sekaligus memberikan dampak nyata bagi kemajuan ekonomi daerah.

Closing Ceremony Lampung Begawi x SigerFest 2026 semakin meriah dengan penampilan penyanyi Yura Yunita yang menghibur masyarakat dan para pengunjung yang hadir. (**).

AKBP Heti Patmawati, Sosok Pemimpin Perempuan Polri yang Mendapat Pengakuan Internasional

0

Infoberitanasional.com-Bali, Indonesia — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh perwira perempuan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

AKBP Heti Patmawati menerima penghargaan Leadership Award dari International Association of Women Police (IAWP) 2026, sebuah pengakuan internasional atas dedikasi, kepemimpinan, dan kontribusinya dalam dunia kepolisian.

Penghargaan tersebut menjadi apresiasi terhadap kiprah Superintendent Heti Patmawati dalam menerapkan kepemimpinan yang berlandaskan integritas, ketangguhan, serta nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam menjalankan tugasnya, ia menunjukkan komitmen untuk memperkuat kepercayaan masyarakat, meningkatkan profesionalisme institusi, serta menghadirkan pelayanan kepolisian yang lebih responsif dan berorientasi pada masyarakat.

Melalui berbagai inovasi, penguatan akuntabilitas, upaya pencegahan korupsi, serta pendekatan pelayanan yang berempati terhadap masyarakat dan korban,  Heti Patmawati berkontribusi dalam mendorong peningkatan kualitas kinerja kepolisian.

Penghargaan IAWP 2026 juga menjadi momentum penting yang menggambarkan semakin kuatnya peran perempuan dalam kepemimpinan kepolisian di tingkat internasional.

Sosok  Heti Patmawati menjadi representasi pemimpin perempuan yang mampu membawa nilai profesionalisme, dedikasi, dan pelayanan publik ke tingkat global.

Semangat pengabdian dan kepemimpinannya menjadi inspirasi bagi generasi penerus Polri untuk terus membangun institusi kepolisian yang modern, terpercaya, dan dekat dengan masyarakat.

*Teri Vs Paus, KMF Akan Unjuk Rasa di Halaman Polres Benteng*

0

Infoberitanasional.com-*BENTENG -* Buntut penangkapan wartawan Nardi di Bengkulu Tengah berbuntut panjang. Kasus yang dinilai janggal dan penuh skenario “jebakan Batman” itu mendapat kecaman keras dari kalangan wartawan, LSM, Ormas dan Forum di tiga provinsi: Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung.

Penangkapan Nardi, wartawan yang bertugas di Kabupaten Bengkulu Tengah itu, ditengarai sebagai upaya kriminalisasi pers. Ia diduga dijebak agar bisa dijebloskan ke jeruji besi.

*Berawal dari Investigasi Bedah Rumah*

Kasus ini bermula saat Nardi dan rekannya S dari media Kompas News 9 melakukan investigasi di salah satu desa di Bengkulu Tengah terkait proyek bedah rumah untuk rakyat miskin yang diduga bermasalah.

Dalam investigasi tersebut, Nardi dan S bertemu dengan Meki, pengelola salah satu toko bangunan yang juga sebagai pemasok sekaligus penanggung jawab proyek bedah rumah tersebut.

Dari pertemuan itu, berdasarkan pengakuan Meki sendiri, terjadi kesepakatan dan Meki memberikan uang sebesar Rp 300.000 kepada S dan Nardi.

Tak berhenti di situ, pada episode kedua, Meki mendatangi kediaman Nardi dan sepakat akan memberikan uang sebesar Rp 1,5 Juta. Meki beralasan pulang dulu untuk mengambil uang.

Namun, niat lain muncul. Meki diduga langsung menyusun skenario bersama oknum di Polres Benteng dengan jebakan Batman, hingga terjadi penangkapan terhadap Nardi di lokasi yang telah ditentukan.

*Upaya Persuasif KMF dan Janji Kapolres*

Menyikapi hal tersebut, Komunitas Masyarakat dan Forum (KMF) bersama puluhan wartawan berupaya menempuh jalur persuasif. Pada Jumat, 18 September 2026, KMF mendatangi Polres Bengkulu Tengah dengan membawa surat penjamin penangguhan penahanan yang ditandatangani 15 wartawan dan LSM.

Kedatangan KMF disambut langsung oleh Kanit Tipiter, Kanit Pidum, Kasat Reskrim dan Kapolres Bengkulu Tengah di ruang kerja Kapolres.

Dalam pertemuan itu, Kapolres menyarankan agar dilakukan upaya perdamaian (restorative justice) antara pelapor Meki dan terlapor Nardi. Kapolres berjanji akan memfasilitasi, segera gelar perkara dan memproses pembebasan jika perdamaian tercapai.

Menindaklanjuti petunjuk Kapolres, pada Sabtu, 19 September 2026, KMF mempertemukan pelapor, dua Kepala Desa, Penasehat Hukum dan tim KMF. Pertemuan tersebut membuahkan hasil. Disepakati bahwa pada hari Selasa akan bersama-sama datang ke Polres untuk melakukan perdamaian dan pencabutan berkas perkara.

*Meki Ingkar Janji, KMF Murka*

Namun entah bujuk rayu dari mana, kesepakatan itu buyar. Terjadi percakapan antara Meki dan Penasehat Hukum (PH) yang menyatakan tidak akan melakukan perdamaian di Polres Benteng. Screenshot percakapan tersebut telah dilampirkan.

Kondisi ini membuat KMF murka. Upaya persuasif yang sudah dibangun dinilai dikhianati.

Saat dikonfirmasi, Penanggung Jawab Aksi KMF, Agus didamping Fahmi Dametri mengatakan pihaknya akan tetap melanjutkan perjuangan membela Nardi.

“KMF akan melakukan AKSI DAMAI di halaman Polres Bengkulu Tengah pada hari Selasa, 22 September 2026 pukul 10.00 WIB,” tegas Agus Sabtu malam (20/09).

Ia menambahkan, surat pemberitahuan aksi dalam bentuk PDF dan fisik akan segera dilayangkan langsung kepada Kapolres melalui Sat Intelkam Polres Bengkulu Tengah pada Minggu, 21 September 2026.

“Aksi ini sebagai bentuk perlawanan terhadap kriminalisasi wartawan. Teri melawan Paus. Kami akan lawan,” pungkasnya.

Ditempat terpisah, ketua DPW APPI  ( Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Pengusaha Pers Indonesia ) mengatakan pada aksi yanga akan dilaksanakn rekan -rekan wartawan,ormas serta LSM dan Forum, dirinya akan turun ikut untuk menyuarakan. Semangat perjuangan rekan-rekan.

Ketua OMBB M.Diamin saat dikonfirmasi memberikan semangat dan akan tetap bergabung menyuarakan kriminalisasi terhadap Nardi.

*Diskusi Media 2026: Penegakan Hukum LP2B Mandul dan Politisasi Kelompok Tani Ancam Ketahanan Pangan Nasional*

0

Infoberitanasional.com-*JAKARTA, Minggu (20/9/2026)* — Dua persoalan kronis dinilai menjadi ancaman serius bagi masa depan ketahanan dan swasembada pangan nasional: masifnya alih fungsi lahan pertanian produktif yang diperparah mandulnya penegakan hukum Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), serta politisasi kelompok tani dan carut-marutnya data penerima subsidi yang membuat bantuan tidak tepat sasaran.

Dua isu kritis tersebut menjadi fokus utama dalam *Diskusi Media 2026 bertajuk “Menjaga Ketahanan dan Swasembada Pangan di Tengah Krisis Global” yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh DPP Serikat Pers Republik Indonesia (SPRI)*. Diskusi digelar pada Minggu (20/9/2026) pukul 12.30–14.30 WIB di Rarampa Resto & Bar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dengan menghadirkan mantan Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian RI (2022–2024), *Jan S. Maringka*, serta praktisi dan pionir pertanian nasional, *Andi Undru Mario*.

Dalam sesi pertama, Jan S. Maringka menyoroti penyusutan lahan sawah produktif yang terjadi secara masif sepanjang jalur Pantura dari Serang hingga Jawa Timur akibat tergerus proyek infrastruktur, kawasan industri, dan pemukiman. Menurutnya, meskipun Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang LP2B telah mengancam pelanggar dengan sanksi pidana dan kurungan, eksekusi di lapangan hampir tidak pernah berjalan. Dari sekitar 600 kabupaten/kota di Indonesia, baru sekitar sepertiga yang melegalisasikan Peraturan Daerah (Perda) LP2B.

“Aturan sanksi pidana dan kurungan alih fungsi lahan seolah hanya menjadi kertas kaku yang tidak pernah dieksekusi. Penyebab utamanya karena kewenangan penjatuhan sanksi berada di tangan kepala daerah (Bupati atau Gubernur), yang sering kali berada dalam posisi dilematis antara mengejar investasi daerah atau mempertahankan lahan pertanian,” ungkap Jan.

Oleh karena itu, Jan mendesak agar DPRD dan elemen masyarakat mengambil peran aktif dalam fungsi pengawasan dan kontrol terhadap pemerintah daerah. Harus ada keberanian politik dari legislatif untuk memberikan rekomendasi sanksi maupun evaluasi terhadap kebijakan tata ruang yang mengorbankan lahan pertanian.

“Jika alih fungsi lahan produktif dibiarkan tanpa penegakan hukum yang tegas, strategi pemenuhan pangan nasional akan selalu terkendala oleh makin menyusutnya ruang produksi petani kita,” tegas Jan.

Pada isu kedua, Jan menyoroti kelemahan mendasar dalam rantai distribusi bantuan pertanian. Selama ini berbagai skema subsidi dan bantuan pemerintah dinilai sering kali berhenti pada lingkaran pengurus kelompok tani (KTNA) atau asosiasi yang memiliki kedekatan politik tertentu, sementara petani yang benar-benar menggarap lahan justru terabaikan.

“Penyaluran subsidi dan bantuan pertanian harus disistematisikan secara digital dan terverifikasi ketat berbasis _by name, by address, and by land_. Jika seseorang tidak memiliki atau menggarap lahan pertanian riil, jangan diklaim sebagai penerima bantuan,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, praktisi dan pionir pertanian nasional yang juga merupakan *Formulator Pupuk Super Tani Indonesia, Andi Undru Mario*, menegaskan bahwa kesenjangan distribusi bantuan dan alokasi subsidi sangat dirasakan oleh para petani kecil di akar rumput. Alur birokrasi penyaluran bantuan saat ini sering tidak tepat sasaran karena dominasi kelompok atau asosiasi tani yang terafiliasi secara politik.

“Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa bantuan dan subsidi sering lebih banyak dinikmati oleh oknum pengurus kelompok tani daripada petani kecil yang benar-benar memeras keringat menggarap lahan. Sistem pendataan dan alur penyaluran harus segera dibenahi total agar bantuan pemerintah langsung menyentuh sasaran riil demi meningkatkan kesejahteraan petani secara nyata,” ujar Andi Undru Mario, Formulator Pupuk Super Tani Indonesia.

Melalui diskusi yang diinisiasi DPP Serikat Pers Republik Indonesia ini, para narasumber mendorong adanya komitmen bersama antara kementerian terkait, aparat penegak hukum, DPRD, dan pemerintah daerah untuk memperketat izin tata ruang, memberlakukan sanksi tegas penyelamatan lahan, serta memutus mata rantai politisasi kelompok tani melalui pembenahan data penerima bantuan yang transparan dan terverifikasi. (Tri)

*Kapolri Resmikan Balai Latihan Seni Silat PTBI, Perkuat Pelestarian Silat dan Budaya Banten*

0

Infoberitanasional.com-Serang – Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo meresmikan Balai Latihan Seni Silat sekaligus menghadiri Milad ke-3 Pasanggrahan Tjimande Banten Indonesia (PTBI) di Kampung Cibogo, Desa Nyapah, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Jumat (18/09).

Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Banten Andra Soni, Kapolda Banten Irjen Pol Hengki, Pendiri PTBI Haji Tubagus Mulyana, Ketua Umum DPP TTKKBI Haji Tubagus Arif Hidayat, Wakapolda Banten Brigjen Pol Iwan Saktiadi, Ketua DPRD Provinsi Banten Fahmi Hakim, pejabat utama Mabes Polri, para ketua perguruan Tjimande, tokoh agama serta tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa peresmian balai latihan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat upaya menjaga dan melestarikan seni budaya khas Banten, khususnya pencak silat Tjimande dan seni budaya Debus.

“Saya merasa sebagai warga Banten memiliki kewajiban untuk ikut berkontribusi membangun wilayah, termasuk membangun dan melestarikan kebudayaan Banten,” ujar Kapolri.

Kapolri mengatakan, pencak silat merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang telah tercatat dalam UNESCO, sementara Tjimande juga menjadi warisan budaya Indonesia. Menurutnya, keberadaan balai latihan dapat menjadi ruang bersama bagi berbagai perguruan untuk berlatih, belajar, berdiskusi sekaligus menjaga keaslian budaya pencak silat Banten.

“Siapa lagi yang akan melestarikan kalau bukan kita sendiri. Ini kekhasan yang dimiliki Banten dan harus terus dijaga,” kata Kapolri.

Kapolri juga mendorong agar keberadaan tempat latihan dan pelestarian budaya serupa dapat dikembangkan di setiap kabupaten di Banten. Dengan demikian, berbagai seni dan kearifan lokal dapat terus dijaga, dilatih dan dikembangkan, sekaligus menjadi ruang berkumpul masyarakat untuk berdiskusi serta menyelesaikan berbagai persoalan secara bersama-sama.

Lebih lanjut, Kapolri menekankan pentingnya menjaga filosofi pendekar dan jawara sebagai bagian dari budaya Banten, yakni membela kebenaran, melindungi yang lemah dan turut menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat bersama Polri.

“Kita titip untuk sama-sama menjaga Harkamtibmas, memberantas penyakit masyarakat dan menjaga wilayah Banten. Mari kita bangun kerja sama Polri dan teman-teman jawara untuk menjaga Banten dengan Sabuk Kamtibmas yang saat ini sedang kita bangun,” ungkapnya.

Kapolri berharap kekompakan dan solidaritas antarperguruan terus dipelihara sehingga seni budaya Silat Cimande dan Debus tidak hanya berkembang di tingkat daerah, tetapi dapat diperkenalkan lebih luas hingga tingkat nasional dan internasional.

Ia juga melihat potensi seni budaya Banten untuk dikembangkan menjadi bagian dari kekuatan ekonomi masyarakat apabila dikelola secara baik dan berkelanjutan, termasuk melalui pengenalan budaya kepada masyarakat luas.

“Mari kita bangun, kita jaga dan terus kita tingkatkan. Ini menjadi bagian dari bentuk bahwa kita memiliki kebudayaan yang luar biasa yang bisa kita jaga,” pungkas Kapolri. (Bidhumas).

*Penganugerahan Kompolnas Awards, Aiptu Eko Yulianto Raih Juara 2 Berkat Inovasi Bank Sampah*

0

Infoberitanadional.com-Serang – Personel Polsek Waringinkurung Polresta Serang Kota Aiptu Eko Yulianto berhasil meraih Juara 2 Kompolnas Awards 2026 melalui inovasi Bank Sampah yang digagasnya. Penghargaan tersebut diberikan dalam kegiatan Penganugerahan Kompolnas Awards 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Jumat (18/09).

Kegiatan Kompolnas Awards 2026 merupakan bentuk apresiasi kepada personel Polri yang menghadirkan berbagai inovasi serta perubahan positif yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan maupun masyarakat.

Inovasi Bank Sampah yang digagas Aiptu Eko Yulianto dinilai memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi melalui pengelolaan sampah.

Melalui program tersebut, sampah yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan dapat dikelola menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis. Selain membantu menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, kegiatan Bank Sampah juga memberikan peluang tambahan penghasilan bagi masyarakat sekitar.

Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol. Maruli Ahiles Hutapea menyampaikan apresiasi atas prestasi yang diraih Aiptu Eko Yulianto. Menurutnya, penghargaan tersebut menunjukkan bahwa personel Polri dapat menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata di tengah masyarakat.

“Polda Banten mengapresiasi prestasi Aiptu Eko Yulianto yang berhasil meraih Juara 2 Kompolnas Awards 2026 melalui inovasi Bank Sampah. Ini merupakan wujud nyata kreativitas dan kepedulian personel Polri dalam memberikan solusi terhadap persoalan yang ada di masyarakat, khususnya dalam pengelolaan lingkungan,” ujar Kombes Pol. Maruli.

Maruli menambahkan bahwa inovasi yang dilakukan personel diharapkan dapat terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi anggota Polri lainnya untuk menghadirkan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Prestasi ini diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh personel Polda Banten dan jajaran untuk terus berinovasi, tidak hanya dalam pelaksanaan tugas kepolisian, tetapi juga melalui kegiatan yang mampu memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan bagi masyarakat,” tutupnya.

Dengan diraihnya penghargaan tersebut, diharapkan semakin banyak personel Polda Banten dan jajaran yang mampu menciptakan inovasi baru serta memberikan kontribusi positif dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan di tengah masyarakat.Kalau yang dimaksud seluruh penyebutan Kapolda dihilangkan, versi di atas juga sudah saya hilangkan (Bidhumas).

*Festival Sastra Kepulauan IX, Panggung Kebudayaan yang Menyatukan Beragam Suara*

0

Infoberitanasional.com-GOWA — Festival Sastra Kepulauan IX resmi dibuka di Baruga Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Jumat malam (18/9/2026). Mengusung tema “Merawat Tradisi Puitik, Menautkan Keberagaman Kampung”, festival ini menjadi ruang perjumpaan sastrawan, seniman, akademisi, dan masyarakat untuk merawat tradisi sastra sekaligus memperkuat budaya literasi Nusantara.

Pembukaan festival dilakukan Wahida, S.S., M.A., yang mewakili Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Toha Machsum, M.Ag. Dalam sambutannya, Wahida menyampaikan apresiasi kepada Teater Kita Makassar yang dinilai konsisten menghadirkan ruang pertemuan, apresiasi, dan pengembangan sastra di tengah dinamika kebudayaan.

Wahida mengungkapkan, pertemuan dengan sejumlah sastrawan yang telah lama dikenalnya menghadirkan suasana dejavu. Momen tersebut sekaligus mencerminkan kuatnya ikatan persaudaraan di antara para pelaku sastra dalam menjaga keberlangsungan tradisi dan nilai-nilai kebudayaan.

“Dengan ini, Balai Bahasa Provinsi Sulsel memberikan apresiasi kepada Teater Kita Makassar. Melalui sastra, dapat dihubungkan berbagai elemen masyarakat. Sastra bukan sekadar ruang berekspresi, tetapi juga jembatan keberagaman,” ujar Wahida.

Menurutnya, sastra tidak hanya menghadirkan keindahan bahasa dan karya seni, tetapi juga membuka ruang dialog, mempertemukan perbedaan, serta menumbuhkan kesadaran bersama mengenai pentingnya merawat kebudayaan.

11 Agenda Utama, Hadirkan Karya Penyair dari Berbagai Daerah

Ketua Panitia Festival Sastra Kepulauan IX, Dr. Asia Ramli, menjelaskan bahwa festival berlangsung selama tiga hari, 18–20 September 2026, dengan menghadirkan 11 item kegiatan utama.

Rangkaian kegiatan tersebut meliputi panggung sastra, diskusi, lokakarya, pameran buku, kemah sastra, serta berbagai lomba kreatif, termasuk baca puisi dan penulisan. Seluruh agenda dirancang untuk memperluas partisipasi masyarakat sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda dalam mengembangkan kreativitas dan kecintaan terhadap literasi.

Salah satu agenda penting festival adalah peluncuran antologi puisi “Kata-kata yang Menyeberang”, yang menghimpun karya 62 penyair dari berbagai daerah, termasuk Malaysia. Antologi ini menjadi representasi perjumpaan gagasan dan pengalaman puitik yang melampaui batas wilayah.

“Ini adalah tradisi yang terus kami jaga. Ada 11 item kegiatan, termasuk peluncuran antologi dari 62 penulis, dari berbagai daerah, bahkan ada dari Malaysia,” kata Asia Ramli.

Ia menambahkan, keterlibatan siswa dan mahasiswa dalam dialog sastra, lokakarya penulisan, serta pertunjukan seni menjadi bagian penting dalam upaya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap dunia sastra.

“Kami berharap festival ini menjadi ajang inspiratif untuk merayakan keindahan sastra dan memperkokoh identitas budaya bangsa,” tambahnya.

Kolaborasi Lintas Instansi Perkuat Ekosistem Kesenian

Festival Sastra Kepulauan IX 2026 mendapat dukungan dari sejumlah mitra strategis, di antaranya Badan Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Teater Kita Makassar, FSD UNM, Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan, Dewan Kesenian Sulsel, dan UPT Taman Budaya Sulsel.

Kolaborasi lintas instansi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem sastra dan kesenian. Dukungan ini juga membuka peluang yang lebih luas bagi komunitas, sanggar, serta pegiat budaya untuk terus berkarya, berjejaring, dan menghadirkan inovasi kebudayaan.

Ketua Dewan Kesenian Sulsel, Dr. Arifin Manggau, M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada Balai Bahasa Sulsel atas peran pengayoman dan dukungannya terhadap keberlangsungan dunia kesenian di Sulawesi Selatan.

“Walaupun DKSS belum mendapat hibah kesenian, kami banyak membantu sanggar-sanggar. Terima kasih atas kerja sama selama ini,” ucap Arifin.

Menjaga Sastra Tetap Hidup di Tengah Keberagaman

Pembukaan Festival Sastra Kepulauan IX diawali dengan pembacaan doa oleh Andi Hendra Bahar, S.Pd.Gr. Kegiatan tersebut dihadiri puluhan sastrawan, budayawan, dan seniman dari berbagai daerah.

Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Dr. Mu’jizah, Bambang Widiatmoko, Tri Astoto Kodari, Prof. Nurhayati Rahman, Rusdin Tompo, Prof. Andi Agus Salim, Hj. Mas’amah Mufti, Eman dari Palu, M. Amir Jaya, Chaeruddin Hakim, Anwar Nasyaruddin, Syahril Rani Patakaki, Ishakim, dan Dr. Syafruddin Muhtamar.

Kehadiran para pelaku sastra dan kebudayaan tersebut memperkuat posisi Festival Sastra Kepulauan IX sebagai ruang pertemuan, pembelajaran, dan apresiasi karya. Festival ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi gerakan kebudayaan yang konsisten menumbuhkan tradisi membaca, menulis, dan berkarya.

Melalui tema yang diusung, festival mengajak masyarakat memandang sastra sebagai kekuatan yang mampu menautkan keberagaman kampung, mempererat persaudaraan, serta menjaga identitas budaya bangsa. Sastra menjadi ruang untuk saling mengenal, memahami perbedaan, dan merawat nilai-nilai kebersamaan.

Di tengah perubahan zaman, keberadaan festival sastra memiliki arti penting dalam memastikan tradisi puitik Nusantara tetap hidup. Melalui karya dan dialog yang terus berkembang, sastra diharapkan mampu menyemai inspirasi, memperkuat karakter generasi muda, serta mewariskan kekayaan budaya kepada generasi mendatang.

Festival Sastra Kepulauan IX pun menjadi pengingat bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk bersatu. Dengan bahasa, imajinasi, dan kreativitas, sastra terus menghadirkan jembatan kebudayaan yang mempertemukan masyarakat dalam semangat persaudaraan dan kecintaan terhadap Indonesia. (*)